03 August 2012

Ditemukan Lapisan Budaya Baru Gunung Padang?

Arkeolog menemukan sisa pembakaran yang diduga dari 500 SM.


VIVAnews - Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang terus melakukan penelitian di punden berundak yang berasal dari masa megalitik ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya dugaan berbagai lapisan budaya di Gunung Padang, atau yang lebih dikenal dengan sebutan multi component site.

Sebelumnya, Tim Terpadu memperlihatkan dugaan adanya dua lapisan budaya di Gunung Padang, dari hasil pengeboran di teras 3 dan teras 5. Pertama, hasil carbon dating di teras 3 memperlihatkan angka berasal dari 4.700 SM. Kedua, hasil carbon dating di teras 5 menunjukkan dugaan berasal dari 10.000 SM. Lihat penjelasannya di tautan ini.

Tapi kemudian, dari hasil ekskavasi yang dilakukan di sebelah selatan Teras 5 Gunung Padang, tim arkeologi menemukan dugaan adanya lapisan budaya lain, yang lebih muda. Hasil ini didapat setelah tim menemukan adanya sisa pembakaran di kedalaman 66 cm.

"Diduga ada aktivitas manusia di kedalaman 66 cm, yang usianya 2.450 BP (before present) atau sekitar 500 SM," kata Koordinator Tim Arkeologi, Ali Akbar, saat berbincang dengan VIVAnews, 2 Agustus 2012.
Meski begitu, Tim Arkeologi masih belum bisa menjelaskan mengenai aktivitas manusia seperti apa dari temuan sisa pembakaran itu. Belum diketahui juga konteks temuan sisa pembakaran dengan fungsi punden berundak Gunung Padang, yang saat ini masih diyakini arkeolog sebagai tempat pemujaan.

Ali Akbar kemudian menjelaskan, adanya berbagai lapisan budaya merupakan hal yang biasa ditemukan dalam penelitian arkeologi. Sebagai contoh, Ali kemudian memberikan adanya lapisan budaya yang ditemukan saat pembuatan terowongan menuju Terminal Transjakarta di depan Stasiun Kota, Jakarta.

"Di lapisan atas ada aspal, kemudian ada bekas jalanan lain yang lebih tua. Di bawahnya ada bekas rel trem yang pernah beroperasi. Kemudian di bawahnya, ada lagi struktur bangunan yang diduga benteng Kota Batavia," ujar Ali Akbar.

Meski demikian, secara garis besar Ali Akbar menyebut ada dua kesimpulan yang ingin disampaikan mengenai penelitian Gunung Padang. Pertama, Gunung Padang merupakan bangunan prasejarah yang sebelumnya diperkirakan kecil, ternyata memiliki luas yang sangat besar, hampir 15 hektar.
Sketsa Gunung Padang dari Timur Laut 
Foto: Ali Akbar
Sketsa Gunung Padang dari Utara 
Foto: Ali Akbar
 
"Prospek ini menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia sangat besar. Bahkan jika ini berasal dari 500 SM. Tapi perkiraan kami Gunung Padang berasal dari usia yang lebih tua," ucapnya.
Berdasarkan perbandingan struktur bangunan Gunung Padang dengan temuan megalitik lain, seperti di Pasir Angin, Lebak Cibadak, atau Pugung Raharjo, sebagian besar ahli arkeologi percaya Gunung Padang berasal dari periode Megalitik antara 2.500 SM hingga 1.500 SM.

Kedua, menurut Ali Akbar, hasil pengeboran yang menunjukkan usia 10.000 SM juga bukan temuan yang bisa dianggap remeh. Arkeolog, memang belum melakukan ekskavasi hingga kedalaman 8 - 10 meter di Teras 5, yang memperlihatkan hasil 10.000 SM, sehingga belum bisa membuktikan bahwa 10.000 SM itu merupakan lapisan budaya.

Meski begitu, dari sudut pandang geologi, usia 10.000 SM di kedalaman 8 - 10 meter terbilang muda. Sebab, jika Gunung Padang terbentuk secara alamiah, setidaknya kedalaman tersebut berusia jutaan tahun. (umi)

Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/341375-ditemukan-lapisan-budaya-baru-gunung-padang-

19 July 2012

Teliti Situs, Tim Perdalam Georadar Gunung Padang

foto

Tim peneliti kembali melakukan penelitian dengan sistem georadar di Situs Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat, Selasa (17/7) dan Rabu (18/7). TEMPO/Deden Abdul Aziz



TEMPO.CO, Bandung  -Tim peneliti Gunung Padang kembali melakukan penelitian di kawasan Situs Megalitikum Gunung Padang di Kampung Panggulan Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai Selasa, 17 Juli 2012 hingga Rabu, 18 Juli 2012. Penelitian ini dilakukan untuk menambah kedalaman georadar.

Ketua Tim peneliti Danny Hilman mengatakan,  sebelumnya penelitian georadar dilakukan dengan kedalaman 20 meter. Karena  kekurangan data, georadar kembali dilakukan dengan menambah kedalaman hingga 50 meter."Georadar ini diperlukan untuk mencari lapisan di kedalaman situs," kata Danny di Cianjur, Rabu 18 Juli 2012.

Hasil georadar ini, kata Danny, akan dilaporkan kepada tim bentukan Staf Ahli Kepresidenan untuk ditindaklanjuti.  "Pengeboran perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil carbon dating, sehingga usia situs bisa ditentukan," kata  Danny.

Penentuan usia situs diperlukan karena selama ini terdapat kesimpangsiuran masalah usia situs dan peradaban yang ada di sekitarnya. Jika kepastian usia ini bisa didapat, menurut Danny, kesimpangsiuran tersebut bisa dinetralisir.

Berdasarkan hasil carbon dating sebelumnya, dari teras 2 dengan kedalaman 5 meter terdapat material yang berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi. Sedangkan dari teras 5 dengan kedalaman 8 meter ditemukan material berusia 10.300 tahun Sebelum Masehi.

"Kami masih memiliki sampel carbon dating untuk diteliti. Jika sebelumnya carbon dating diteliti di laboratorium Badan Atom Nasional (Batan), kali ini sampel akan dikirim  ke laboratorium di Miami, Amerika Serikat, "ucap  Danny.

Danny menjelaskan, ketepatan carbon dating di laboratorium Miami dijamin karena peralatannya super canggih.  Sayang, harganya sangat mahal. Untuk satu sampel dari satu gram carbon dating harganya mencapai 600 dolar Amerika Serikat atau kira-kira Rp 5,4 juta. "Padahal diperlukan 7-10 sampel untuk diteliti," ujarnya.

Penelitian georadar dilakukan di Situs Gunung Padang di tengah-tengah arus pengunjung yang cukup membludak. Ratusan pengunjung yang memenuhi areal situs cukup merepotkan tim peneliti.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/07/18/178417851/Teliti-Situs-Tim-Perdalam-Georadar-Gunung-Padang

12 July 2012

Gunung Padang, Truly Extraordinary

Liputan6.com, Jakarta: Gunung Padang adalah sebuah struktur punden berundak raksasa yang menutup lereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur kontruksi yang advance. "Ini setara dengan kontruksi bangunan Michu-Pichu di Peru," kata anggota Tim Terpadu Riset Mandiri Boediorto Ontowirjo, dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Setelah melakukan riset, lanjut Boediarto, tim menyimpulkan tidak benar jika situs Gunung Padang hanya dianggap berada di atas bukit. Hasil survei dengan metode geolistrik, georadar, dan geomagnet menunjukkan ada geometri kontruksi bangunan di bawah situs Gunung Padang.

Menurut Boediarto, bangunan itu paling tidak menempati sekitar 15 meter bagian puncaknya. Sedangkan bangunan di bawah teras-teras Gunung Padang kelihatan mempunyai chamber-chamber besar (ditunjukkan oleh struktur veryhigh resistivity dari hasil survei geolistrik).

"Bagian kecil dari salah satu chamber yang berada di teras lima (bagian selatan Situs) ini sudah dibuktikan dengan pemboran. Ternyata memang benar sebuah rongga, tapi diisi oleh pasir (dengan butiran seragam), sepertinya untuk menyimpan sesuatu," ujar Boediarto.

Perkiraan umur Situs Gunung Padang di lapisan paling atas secara arkeologi (berdasarkan kesamaan bentuk artefak) diduga sekitar 2.800 SM. Dari penentuan umur absolut berdasarkan analisa carbon radiometricdating umur sampel serpihan karbon di bawah lapisan atas situs pada kedalaman 3-4 meter didapat umur maksimum (paling tua) 4.500 SM. Dengan kata lain perkiraan umur dari bangunan di lapisan atas adalah sekitar 2.800-4.500 SM.

Boediarto menambahkan, bangunan di bawah permukaan situs diduga kuat merupakan bangunan yang lebih tua. Soalnya hasil penentuan umur carbon radiometricdating dari sampel serpihan karbon yang terdapat pada pasir di rongga yang di-bor di Teras 5 tersebut, yaitu pada kedalaman antara 8-10 meter menunjukkan umur (maksimum) sekitar 10.500 SM.

Umur ini memang belum bisa dipastikan umur bangunannya karena bisa saja merupakan umur dari material pasir-nya itu (yang di bawah dari tempat lain). Tapi paling tidak umur ini sudah membuktikan bahwa lapisan batuan-tanah sampai kedalaman 15 meter adalah sebuah konstruksi bangunan bukan lapisan batuan alamiah (yang seharusnya berumur jutaan tahun berdasarkan data geologi di wilayah ini).

Menurut Boediarto, target ke depan tim akan melakukan analisis penentuan umur lapisan dan pemeriksaan lab dari materialnya. Termasuk untuk memastikan apakah situs Gunung Padang dan bangunan di bawahnya itu merupakan produk satu peradaban atau lebih dari satu peradaban yang kurun waktunya berbeda.

Target lain adalah melakukan survei analisis lanjutan untuk memvisualisasikan lebih jelas lagi arsitektur bangunannya, termasuk chamber-chamber yang ada di dalamnya dan juga melanjutkan membuka akses masuk.

Lalu mengeksplorasi lebih luas dan dalam lagi struktur bukit Gunung Padang karena berdasarkan survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan ada indikasi bahwa struktur bangunan tidak terbatas hanya setinggi 15 meteran di bagian atasnya saja. Tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya (sampai level parkir-pintu masuk) atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu.

"Hal ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif, tapi kalau ternyata hal ini benar maka merupakan sesuatu yang "truly extraordinary," kata Boediarto.

Singkatnya, Situs Gunung Padang bukanlah produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif. Tapi merupakan produk dari peradaban tinggi atau merupakan bukti nyata Mahakarya Arsitektur dari zaman prasejarah Nusantara. "Jadi Gunung Padang dapat menjadi icon dan titik tolak untuk membuka lebih banyak lagi jejak peradaban nusantara yang gemilang di masa purba," tutup Boediarto.(ULF)

Sumber : http://berita.liputan6.com/read/416682/gunung-padang-ltemgttruly-extraordinarylt-emgt