17 October 2014

Atasi Limbah Pabrik & Elektrikfikasi, Melalui Dua Alat Ini


http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_9896.JPG

BANDUNG – Untuk mengatasi permasalahan limbah pabrik dan elektrifikasi atau kekurangan energi listrik, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melirik dua alat temuan hasil karya Dicky Zainal Arifin.
Kedua alat ini didemonstrasikan di hadapan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar di Rumah Dinasnya, Jl. Ir. H. Juanda Nomor 148 Dago, Bandung pada Senin malam (13/10). Pada demonstrasi alat yang juga disaksikan Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Jawa Barat Yerry yanuar, perwakilan para OPD terkait, serta Bupati Bandung Dadang M Nasser ini, Kang Dicky (sapaan akrab Dicky Zainal Arifin) memperagakan alat elektrifikasi listrik yang ia beri nama Balaruna. Alat ini berupa generator penghasil energi listrik yang tidak memerlukan bahan bakar untuk menghasilkanya. Uniknya, alat ini akan terus memproduksi listrik tanpa henti atau disebut overunity.

Lebih lanjut Kang Dicky menjelaskan sistem kerja alat ini seperti angka 8, sehingga gelombang elektromagnetik yang dihasilkan putaran menghasilkan energi yang tak pernah habis, karena terus men-charge atau memberi masukan energi yang dibutuhkan. ”Itu namanya generator tanpa bahan bakar, jadi prinsipnya overunity. Overunity itu maksudnya tanpa habis-habis seperti angka delapan, overunity-seperti ouroboros. Jadi, si listrik itu akan kembali men-charge lagi, men-charge lagi, men-charge lagi seperti itu. Itu free energy sebetulnya. Dan ini hal yang selama ini dunia cari” ungkap Kang Dicky.

Sementara biaya untuk memproduksi alat ini sangatlah terjangkau. Untuk membuat satu alat dapat menghabiskan dana hingga 1,5 juta rupiah. Namun dapat menerangi listrik hingga lima rumah karena dapat menghasilakan listrik hingga 600 watt. Namun, untuk menghasilkan energi yang lebih besar lagi, alat ini dapat disesuaikan ukurannya dengan energi yang dibutuhkan. Selain itu, alat ini pun dapat dibuat untuk sumber listrik alat elektronik tertentu, seperti balaruna untuk televisi, komputer ataupun yang lainnya.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sangat mengapresiasi dan mendukung pengadaan alat ini sebagai solusi dalam program elektrifikasi untuk desa-desa di Jawa Barat yang belum terjangkau aliran listrik. ”Kita tahu sekarang di Jawa Barat masih banyak desa-desa atau rumah yang belum ada listrik. Karena masalah instalasinya yang begitu mahal. Jadi PLN juga kita tidak bisa paksa dan harapkan untuk membangun instalasi yang begitu besar. Nah, tadi ada elektrifikasi yang dengan harga murah. Teknologi ini akan kita kembangkan ke beberapa desa, sekaligus nanti yang buat adalah masyarakat desa. Tinggal kita training, sehingga jadi pemberdayaan ekonomi masyarakat juga untuk membuat alat-alat elektrifikasi tadi”, papar Wagub.
Wagub pun berharap alat ini dapat membantu sistem elektrifikasi masyarakat serta segera mengaplikasikan. Selain itu Wagub ingin Balaruna ini segera dipatenkan untuk menghindari pengakuan dan pemanfaatan dari pihak lain.

Selain Balaruna, dalam mengatasi limbah yang berasal dari industri yang berdampak pada pencemaran lingkungan, Kang Dicky juga telah menciptakan Alat Pemurni Air-khususnya limbah cair industri-yang sederhana dan terjangkau.

Wagub mengatakan bahwa saat ini masih banyak pabrik yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah atau Ipal yang baik. Untuk itu, pihaknya ingin mencoba alternatif teknologi tepat guna melalui Ipal yang terjangkau, sehingga dapat menjadi solusi agar dapat menjernihkan kembali air limbah yang dihasilkan industrti dan layak untuk dialirkan ke sungai-sungai.

Melalui alat pemurni air yang diaku Kang Dicky belum diberi nama ini, Wagub berharap melalui alat ini teknologi tepat guna dapat segera diaplikasikan untuk solusi Ipal yang murah. ”Ini bisa jadi suatu solusi bagaimana dengan Ipalnya yang murah, sehingga keluarnya di bawah baku mutu air sendiri, jadi tidak di atas baku mutu air. Jadi, memang layak untuk dialirkan ke sungai-sungai kita dengan harga yang murah. Kalau berhasil kita uji coba-ini menjadi solusi, jadi tidak ada lagi nanti pabrik-pabrik yang mengeluarkan limbah B3 tadi mencemari sungai-sungai kita. Jadi peneggakkan hukum kita bisa lakukan kalau dia (industri) memang tidak mau melakukan pengolahan limbahnya”, jelas Wagub.

Wagub pun menambahkan bahwa saat ini tengah dilakukan uji coba dalam mereklamasi sawah-sawah yang telah dialiri air limbah dengan mereklamasinya melalui pupuk tertentu.

Alat pemurni air ini sendiri memakai teknik Fisika dan gravitasi dalam mengoperasikannya. Kang Dicky mengatakan di dalam tabung alat ini terdapat beberapa lapis penyaring air tertentu yang dapat menjernihkan air limbah yang kotor dan beracun. ”Fisikalah ini, jadi mulai gravitasi. Kita pakai gravitasi dan kemudian ada penyarigan-penyaringan. Penyaringan-penyaringan yang itu resep saya sendiri. Jadi saya tidak meniru, resep-resep ini saya buat sendiri, ada apa saja di dalamnya dan sebagainya. Makanya dari limbah yang hitam bisa keluar bening”, papar Kang Dicky.

Sementara itu, Bupati Bandung Dadang M Nasser yang turut hadir menanggapi dengan baik adanya kedua alat pemurni air dan elektrifikasi ini. Khusus untuk alat pemurni air, ia pun berharap dengan alat ini pabrik-pabrik yang ada di wilayahnya dapat segera menerapkan Ipal yang terjangkau agar dapat segera mengendalikan limpahan limbah untuk mendukung program Citarum Bestari. ”Kami membutuhkan ini, tadi sudah bicara dengan pak Wagub-kaitan dengan penyelesaian situ hulu-hilir per 20 km Citarum. Terutama untuk Ipal limbah cair yang ada dimulai dari Ibun sampe ke Baleendah. Ini harus ada Ipal dan kita harus duduk bersama untuk membicarakannya”, harap Dadang.

Kang Dicky mengaku tujuan dirinya menciptakan alat ini adalah untuk memberdayakan ekonomi masyarakat, sehingga nantinya alat ini akan diproduksi sendiri oleh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan listriknya.

Untuk itu, perlu adanya upaya penerapan teknologi tepat guna agar dapat mengembalikan kondisi lingkungan dan alam kembali seperti semula. Dan hal ini dapat dilakukan melalui instalasi pengolahan limbah yang sederhana dan terjangkau bagi semua kalangan. 

Sumber : http://jabarprov.go.id/index.php/news/9896/2014/10/14/Atasi-Limbah-Pabrik-Elektrikfikasi-Melalui-Dua-Alat-Ini

25 September 2014

Setelah Koin dan Kujang, Kini Ditemukan 'Jendela' di Gunung Padang


Rachmadin Ismail - detikNews

 
Foto: dok. TTRM Gunung Padang

Jakarta - Temuan demi temuan mengejutkan terus bermunculan di situs megalitikum Gunung Padang. Setelah koin dan artefak kujang yang menghebohkan, kini ada struktur batuan yang mirip dengan jendela. Bagaimana ceritanya?

Salah seorang anggota tim peneliti dari Gunung padang Y Paonganan mengatakan, ada struktur yang mirip dolmen (meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang). Bentuknya ada batu melintang lalu ditopang oleh batu-batu di bawahnya.

"Dolmen atau meja batu selama ini diinterpretasikan digunakan untuk penguburan. Dolmen juga digunakan sebagai kursi pada saat upacara keagamaan," kata Paonganan dalam rilis kepada detikcom, Selasa (24/9/2014).

Namun, ada perbedaan antara dolmen di tempat lain dan di Gunung Padang. Di sana, struktur itu mengarah pada satu bagian dari bangunan seperti jendela atau tempat saluran air.

"Hipotesa sementara ini adalah jendela atau ceruk dari bangunan megah tersebut. Temuan ahli konstruksi sipil DR Budiarto Ontowirjo oni dilaporkan ke Arkeolog DR Ali Akbar dan Tim arsitektur Pon Purajatnika dan Chaedar Saleh. Perlu penelitian lanjutan, karena di sela-sela batu tampaknya ada lubang. Minggu depan, temuan ini akan diteliti‎ lebih lanjut," paparnya.

(mad/ndr)

Sumber : http://news.detik.com/read/2014/09/24/151202/2699838/10/setelah-koin-dan-kujang-kini-ditemukan-jendela-di-gunung-padang

17 September 2014

Koin Logam 5.200 SM Ditemukan di Gunung Padang

Koin Logam 5.200 SM Ditemukan di Gunung Padang


Kawasan situs Megalit Gunung Padang saat dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Bambang Yudhoyono di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. (25/2). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

TEMPO.CO, Cianjur - Artefak berbentuk koin logam yang ditemukan Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Wakil Ketua Timnas Bidang Arkeologi, Ali Akbar, mengatakan logam terbuat dari perunggu yang diperkirakan berasal dari masa 5.200 sebelum Masehi itu ditemukan pada Senin, 15 September 2014.

Koin tersebut, kata dia, berdiameter 1,7 sentimeter dan tebal 1,5 milimeter. "Uniknya, garis melingkar itu ternyata berbentuk untaian lingkaran yang sangat kecil sekali, dan diameternya sekitar 0,3 milimeter dengan jumlah sebanyak 84 lubang,” kata Akbar di Cianjur, Selasa, 16 September 2014.

Menurut Akbar, sebelumnya pada kedalaman 2-3 meter pihaknya menemukan beberapa artefak di sana, di antaranya mata tombak, trak logam, tongkat, gerabah, dan lain-lain, yang rata-rata berusia diperkirakan 5.200 SM. Namun, artefak yang terakhir ditemukan pada Senin lalu itu terdapat di kedalaman 11 meter saat proses pengeboran di teras lima.

"Saya memang belum bisa memastikan usia koin logam yang ditemukan. Tapi, jika artefak lainnya berusia 5.200 SM di kedalaman 2-3 meter, apalagi usia artefak koin logam yang ditemukan di kedalaman 11 meter. Jadi kemungkinan lebih tua lagi," ujar Akbar.

Koin logam yang ditemukan, lanjut dia, sekitar tengah malam pukul 00.00 WIB, saat proses pengeboran mencapai 11 meter. Koin itu juga terangkat melalui saluran pembuangan limbah, sehingga koin itu berbentuk utuh atau tidak rusak.

"Mata bor ini kan kecil sekitar 5 sentimeter. Jadi, di samping sisi kiri dan kanan bor itu ada saluran air agar memudahkan pengeboran, lalu dikeluarkan lagi melalui saluran sisi lainnya. Di saat saluran air itu berjalan, koin itu terangkat. Sehingga bentuk koin tersebut masih sangat utuh," kata dia.

Koin tersebut, kata dia, berwarna hijau kecokelatan. Ukurannya sangat kecil berdiameter 1,7 sentimeter dan permukaanya datar. Pada koin itu terdapat lingkaran yang sangat banyak motif. Seperti motif gawangan di samping lingkaran koin, lalu di dalamnya ada garis melingkar pada semua bagian koin.

Akbar memperkirakan koin tersebut digunakan sebagai status sosial dan ritual upacara, bukan alat penukaran. Sebelumnya para peneliti, memperkirakan di kedalaman 5 meter itu sudah tidak ada peradaban atau kehidupan lagi, kalau konteksnya dilihat saat penemuan artefak beberapa waktu lalu.

"Berarti usia situs itu bisa lebih tua lagi. Kemungkinan masih banyak benda-benda seperti itu. Tapi kami akan teliti dulu lebih lanjut dan dibawa ke laboratorium," katanya.

DEDEN ABDUL AZIZ

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/09/16/058607445/Koin-Logam-5200-SM-Ditemukan-di-Gunung-Padang