TEMPO.CO, Jakarta - Teka-teki siapa penghuni asli Gunung Padang yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi masalah besar bagi tim peneliti yang ingin merestorasi kawasan itu. Belum ada bukti otentik yang bisa menggambarkan pengguna kawasan yang diperkirakan berusia lebih dari 7.000 tahun itu. Tim peneliti berencana melakukan penelitian molekul asam deoksiribonukleat (DNA) untuk mencari hubungan antara masyarakat modern dan penghuni asli Gunung Padang.
Ketua Tim Terpatu Riset Mandiri Ali Akbar mengatakan sulit menunjuk siapa keturunan penghuni asli Gunung Padang jika melihat komunitas yang tinggal di sekitar area itu saat ini. Penduduk sekitar Gunung Padang, menurut Ali, mengaku sudah lama tinggal di daerah itu. "Tapi tidak ada makam-makam tua yang membuktikan bahwa dulu pernah ada penduduk di sana yang sesuai dengan usia Gunung Padang," kata Ali seusai diskusi tentang Situs Gunung Padang di Jakarta, Rabu, 30 April 2014.
Ali, yang juga ahli arkeologi dari Universitas Indonesia, menyebut penelitian DNA akan menyingkap tabir tentang siapa penghuni dan pembangun situs purba terbesar di Asia itu. Penelitian DNA juga bisa memberikan gambaran ke mana saja penghuni Gunung Padang dan keturunannya menyebar. "Selama kami meneliti dalam tiga tahun terakhir, belum pernah menemukan adanya kerangka manusia yang menjadi bukti ada kehidupan purba di situs itu," kata Ali. "Jika ada bentuk peradaban, pasti selalu ada jejaknya."
Ali mengatakan Situs Gunung Padang ditinggalkan karena adanya ancaman bencana alam besar. "Kemungkinan ada gempa yang membuat mereka pergi meninggalkan area tersebut, apalagi di sana merupakan daerah rawan gempa," katanya. Adapun bencana erupsi gunung berapi, menurut Ali, sangat kecil kemungkinannya bisa membuat Situs Gunung Padang ditinggalkan penghuninya begitu saja. "Jika ada bencana gunung api, pasti ada jejak yang tertinggal seperti kerangka yang terkubur. Semuanya harus diteliti lebih dalam lagi," katanya.
Struktur Situs Gunung Padang terletak di atas bukit dengan luas area sekitar 3.000 meter persegi. Total area situs mencapai 17.196 meter persegi. Keberadaan situs ini diketahui pertama kali oleh peneliti dari Belanda, N.J. Krom, pada 1914. Sejak saat itu, berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkap rahasia struktur yang disebut sebagai bukti peradaban awal di Indonesia. "Lapisan dalam struktur tersusun rapi, bentuknya seperti tembok batu bata dan menunjukkan pembuatnya sangat disiplin dalam menjalankan konstruksi," kata Danny Hilman Natawidjaja, pakar geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Pengujian usia struktur berdasarkan kondisi karbon yang dilakukan Laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional menunjukkan situs tersebut berusia 5.500 sebelum Masehi. Sedangkan pengujian di Laboratorium Beta Miami di Amerika Serikat menunjukkan material hingga kedalaman 10 meter berusia 7.600-7.800 SM. "Lapisan-lapisan di Gunung Padang itu tidak terbentuk secara alamiah. Bentuknya menunjukkan situs itu dibuat oleh manusia," kata Danny.
GABRIEL WAHYU TITIYOGA
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/05/01/061574591/Peneliti-Lacak-DNA-Penghuni-Asli-Gunung-Padang
01 May 2014
07 January 2014
Kang Dicky: Ada Semacam Parabola di Dalam Gunung Padang
Kang Dicky: Ada Semacam Parabola di Dalam Gunung Padang
Senin, 25 November 2013 , 15:36:00 WIB
RMOL.
Sebanyak 437 Pyramid atau punden berundak di Indonesia ternyata telah
berhasil diditeksi. Letaknyapun beraneka ragam, ada yang di bawah laut,
di bawah tanah, dan di permukaan tanah. Namun belum semuanya dilakukan
penelitian secara mendalam seperti Gunung Padang, Sadahurip,
Rancakbuaya, dan lainnya.
Hal itu disampaikan Guru Besar Hikmatul Iman, Bandung, Dicky Zainal Arifin kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam (23/11), dalam acara Sarasehan Menyingkap Misteri Gunung Padang yang diselenggarakan Kelompok Spiritual Indonesia.
Menurut Kang Dicky, panggilan akrab Dicky Zainal Arifin, setiap bangunan yang ditemukan itu, setelah diteliti secara mendalam baik menggunakan pendekatan spiritual dan teknologi menunjukan fungsi yang berbeda, misalnya Gunung Padang, di dalamnya ditemukan semacam parabola dan bola-bola yang memancarkan energy magnetic.
"Kegunaan parabola itu untuk keperluan astronomi yang menghitung kalender galaxy dan merisetnya setiap 5125 tahun 236 hari, tergantung pemuaian Galaxy karena Galaxy terus memuai," jelas Kang Dicky.
Pendapat Kang Dicky itu dibenarkan oleh salah satu ahli fheng shui Indonesia, Gunadi Wwidjaja yang menyatakan bahwa bila melihat bentuk dan letak Gunung Padang memang jaman dahulu untuk keperluan astronomi yang mengamati galaxy untuk memprediksi masa mendatang.
"Gunung Padang sebagai tempat tertinggi untuk mengamati bintang-bintang," ujar Gunadi.
Menurut Kang Dicky, bangunan punden berundak Gunung Padang memang benar-benar buatan manusia dari masa sebelum manusia Atlantis, yakni manusia Lemuria yang memiliki teknologi yang sangat maju.
Hingga saat ini, letak dari benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeolog yang telah ditemukan dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, kemungkinan besar peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik atau di sekitar Indonesia sekarang. [ysa]
Sumber : http://rmol.co/news.php?id=134523
Senin, 25 November 2013 , 15:36:00 WIB
Laporan: Dar Edi Yoga
ILUSTRASI/NET
| |
Hal itu disampaikan Guru Besar Hikmatul Iman, Bandung, Dicky Zainal Arifin kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam (23/11), dalam acara Sarasehan Menyingkap Misteri Gunung Padang yang diselenggarakan Kelompok Spiritual Indonesia.
Menurut Kang Dicky, panggilan akrab Dicky Zainal Arifin, setiap bangunan yang ditemukan itu, setelah diteliti secara mendalam baik menggunakan pendekatan spiritual dan teknologi menunjukan fungsi yang berbeda, misalnya Gunung Padang, di dalamnya ditemukan semacam parabola dan bola-bola yang memancarkan energy magnetic.
"Kegunaan parabola itu untuk keperluan astronomi yang menghitung kalender galaxy dan merisetnya setiap 5125 tahun 236 hari, tergantung pemuaian Galaxy karena Galaxy terus memuai," jelas Kang Dicky.
Pendapat Kang Dicky itu dibenarkan oleh salah satu ahli fheng shui Indonesia, Gunadi Wwidjaja yang menyatakan bahwa bila melihat bentuk dan letak Gunung Padang memang jaman dahulu untuk keperluan astronomi yang mengamati galaxy untuk memprediksi masa mendatang.
"Gunung Padang sebagai tempat tertinggi untuk mengamati bintang-bintang," ujar Gunadi.
Menurut Kang Dicky, bangunan punden berundak Gunung Padang memang benar-benar buatan manusia dari masa sebelum manusia Atlantis, yakni manusia Lemuria yang memiliki teknologi yang sangat maju.
Hingga saat ini, letak dari benua Lemuria pada masa silam masih menjadi sebuah kontroversi, namun berdasarkan bukti arkeolog yang telah ditemukan dan beberapa teori yang dikemukakan oleh para peneliti, kemungkinan besar peradaban tersebut berlokasi di Samudera Pasifik atau di sekitar Indonesia sekarang. [ysa]
Sumber : http://rmol.co/news.php?id=134523
Labels:
Gunung Padang,
LEMURIA
07 September 2013
Andi Arief: Otak di Balik Kekerasan pada Tim Tomography Sama dengan Provokator Sebelumnya
Jum'at, 06 September 2013 , 08:20:00 WIB
Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi
ANDI ARIEF/NET
| |
"(Kekerasan pada tim) Ini bukan khas warga gunung Padang dan sekitarnya. Ini khas kelompok intelektual yang menghalalkan segala cara," kata inisiator Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, Andi Arief, dalam keterangan tertulis beberapa saat lalu (Jumat, 6/9).
Andi Arief pun yakin otak di balik insiden kemarin ini masih sama dengan yang memprovokasi masyarakat bahwa coring merusak situs, dan juga yang pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Gunung Padang akan longsor.
"Kejadian kemarin bukan kejadian sederhana, (tapi) dirancang untuk main kayu terhadap peneliti setelah tak ada celah untuk gagalkan secara scientific," ungkap Andi Arief, yang juga Staf Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana.
Cara-cara main kayu seperti ini, lanjut Andi Arief, sudah banyak terjadi di berbagai negara. Bahkan di beberapa negara, ada yang sampai penelitinya dihabisi.
"Sungguh kejam dan tak punya hati. Masyarakat dibodohi, diprovokasi seolah Tomography seismic akan meledakkan gunung padang. Kita tidak boleh diam, warga jangan mau diadu domba," tegas Andi Arief. [ysa]
Sumber : http://www.rmol.co/read/2013/09/06/124602/Andi-Arief:-Otak-di-Balik-Kekerasan-pada-Tim-Tomography-Sama-dengan-Provokator-Sebelumnya
Labels:
Gunung Padang
Subscribe to:
Posts (Atom)