22 June 2012

Membuktikan Gunung Padang, Membuktikan Sadahurip

Resume paparan 7 Februari 2012 tentang gunung padang: Analisis  bentang alam  memperlihatkan bahwa bukit di bawah Situs Gunung Padang ini tidak selaras dengan sekitarnya, mirip dengan G. Sadahurip tapi lebih “subtle”.  Sebagaimana G. Sadahurip, interpretasi geologi yang paling masuk akal untuk bukit yang “solitaire” ini adalah merupakan suatu intrusi batuan beku atau sebuah gunung api purba.
 
Namun, hasil survey pencitraan bawah permukaan Gunung Padang dengan memakai GPR (Ground Penetration radar), Geolistrik, dan Geomagnet tidak menunjang kearah dugaan bentukan proses geologi melainkan tapi malah lebih mengindikasikan suatu struktur bangunan buatan manusia. Tim sudah memakai teknologi yang paling mutakhir.  Untuk GPR menggunakan peralatan georadar dari GSSI (USA), geolistrik memakai teknologi multi-channel SuperSting R-8 (USA), dan geomagnet memakai peralatan dari GEM-Ovenhausser yang sangat sensitive dan biasa dipakai oleh para arkeolog dunia.

Tim melakukan banyak lintasan pengukuran geolistrik dengan berbagai konfigurasi ketelitian dan “depth of penetration” yang berbeda untuk memperoleh penampang struktur “resistivity” Utara-Selatan dan Barat – Timur.   Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan kelihatannya tidak alamiah.
  
Di bawah situs  ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi uniknya bagian atas lapisan ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran dari puncak) dan membaji pas di ujung selatan Situs.  Ini kuat mengindikasikan bahwa dari kedalaman 20 meter ke atas merupakan struktur (bangunan) yang dibuat manusia.  Lapisan high resistivity (merah)  biasanya adalah batuan keras massif – seperti batuan andesit-basalt.
 
Kemudian yang lebih mencengangkan lagi di bawah lapisan merah ini juga kelihatannya sukar untuk dikatakan bentukan geologi.  Di bawah lapisan merah ada lapisan yang “low-resistivity” dengan  bentukan-bentukan membulat dari zona very low resistivity (mendekati 1 ohm-m = true conductor). Yang lebih unik lagi lapisan biru ini dialasi oleh suatu struktur high resistivity (batuan keras) yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa”.  Posisi cawan ini kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau setara dengan level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.
 
Kenampakan struktur cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur dan diberbagai konfigurasi survey.   Sebagai informasi, keberadaan struktur seperti cawan atau kolam ini juga terdapat di penampang resistivity hasil survey geolistrik di Gunung Sadahurip.

Dugaan dari hasil survey Geolistrik bahwa lapisan sekitar 20 meter ke bawah dari atas situs adalah sebuah konstruksi bangunan  ditunjang oleh Survey GPR.  Survey GPR dilakukan berbagai lintasan atas situs dengan memakai antenna MLF 40 MHz dari SIR-20 GSSI yang dapat menembus kedalaman sampai sekitar 25-30 meteran. Dari GPR terlihat ada bidang “very high reflector” di kedalaman sekitar 3-5 meter dari permukaan di semua teras.  Bidang ini sangat horizontal dan juga membentuk undak-undak seperti situs di atasnya.
 
Dibawah bidang ini struktur lapisan tidak kalah unik. Ada lapisan melintang yang memotong lapisan-lapisan horizontal  yang  tidak mungkin merupakan struktur geologi untuk lingkungan di bukit ‘vulkanik’.   Singkatnya, penampang georadar sangat mendukung adanya  struktur bangunan sampai kedalaman 20 m.

Tim juga kemudian melakukan survey geolistrik 3-D di atas situs yang dimaksudkan untuk mendapatkan sub-surface structure yang lebih detil sampai kedalaman 25 meteran.  Survey  3-D berhasil meng-iluminasi struktur di bawah situs dengan baik.
 
Salah satu hasil yang membuat kami terperangah adalah kenampakan tiga tubuh “very-high resistivity” (lebih dari 50.000 ohm.m) di bawah situs.  Dengan nilai resistivitas setinggi ini kemungkinannya ada dua: tubuh yang sangat solid/pejal atau merupakan ruang (“CHAMBER”).  Dalam konteks-nya dengan struktur disekitarnya yang paling mungkin adalah merupakan ruang kosong  atau chamber.
 
Dimensi chamber tersebut kelihatannya sangat besar.  Ada satu yang kira-kira 10x10x10 meter.  Kekagetan kami tidak berhenti di sini.  Hasil survey geomagnet memperlihatkan ada anomaly magnetic yang tinggi di beberapa lokasi.  Salah satunya yang besar terletak persis disamping struktur yang diduga chamber besar.  Anomali magnetic tinggi bisa berasosiasi dengan timbunan barang-barang terbuat dari bahan metal/logam.

Kemudian, sebagai tahapan pembuktian selanjutnya, Tim sudah melakukan pengeboran di dua titik.   Lokasi bor yang dipilih sebenarnya bukan titik “Jack-pot” yang seharusnya di-bor berdasarkan survey geolistrik, georadar, dan geomagnet, misalnya persis di atas Chamber atau anomaly high magnetic-nya.  Hal ini dikarenakan lokasi-lokasi strategisnya dipenuhi tumpukan kolom andesit situs yang TIDAK BOLEH DIPINDAHKAN.

Tim mendapat ijin bor dari pihak berwenang tapi belum diperbolehkan untuk memindahkan bebatuan situs.  Walaupun demikian, hasil pemboran sudah cukup untuk membuktikan dugaan struktur bangunan dan juga sukses dalam mengkalibrasi hasil survey georadar dan geolistrik.

Pada Lubang Bor 1: dari permukaan sampai kedalaman kira-kira 3 meter terdapat perlapisan susunan kolom andesit 10-40 cm (yang dibaringkan) diselingi lapisan tanah. Setiap kolom andesit ini dilumuri oleh semacam semen (sama seperti yang ditemukan waktu trenching dinas kepurbakalaan tahun 2000 sampai kedalaman 1.8 meter).  Sewaktu menembus 3m , Tim mendapat surprise karena tiba-tiba drilling loss circulation dan bor terjepit. 

Yang dijumpai adalah lapisan pasir-kerakal SUNGAI (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal 1 meteran (Catatan: jadi rupanya bidang reflektor yang terlihat pada GPR di kedalaman 3-5 meter di semua Teras adalah batas dengan permukaan hamparan pasir ini).  Dari sudut teknik sipil, diduga  hamparan pasir ini dapat berfungsi sebagai peredam guncangan gempa. 

Dibawah kedalaman 4m , bor menembus struktur selang seling antara lapisan kolom andesit yang ditata dan lapisan tanah-lanau.  Kolom andesit yang ditata itu sebagian ditata horizontal dan sebagian lagi miring (catatan: ini sesuai dengan survey GPR yang memperlihatkan bahwa perlapisan ada yang horizontal dan ada yang miring).

Baru dikedalaman sekitar 19 meter bor menembus tubuh andesit yang kelihatannya massif tapi penuh dengan retakan.  Tubuh massif ini dibor sampai kedalaman sekitar 25 meter (note: sesuai dengan penampang geolistrik bahwa kelihatannya bor sudah menembus lapisan merah yang terpancung itu).  Banyak ditemukan serpihan karbon, diantaranya ditemukan di kedalaman sekitar 18m yang lebih menguatkan bahwa lapisan kolom andesit dan tanah (atau semen) yang ditembus bukan endapan gunung api tapi struktur bangunan.

Bor ke-dua yang dilakukan persis di sebelah selatan Teras 5 menembus tanah (yang seperti tanah urugan sampai kedalaman sekitar 7 meter. Kemudian ketemu batuan  andesit keras. Di kedalaman 8 m terjadi hal mengejutkan – Total Loss, 40% air di drum langsung tersedot habis. Hal ini berlangsung sampai kedalaman 10 m. Inilah target utama-nya – tubuh very high resistivity yang terlihat jelas di Geolistrik 3-D.  Mata  bor menembus rongga yang diisi pasir (kering) yang luarbiasa keseragamannya seperti hasil ayakan manusia.  Di bawahnya ketemu lagi dua rongga yang juga terisi pasir ‘ayakan’ itu diselingi oleh ‘tembok’ andesit yang sepertinya lapuk.  Pemboran berhenti di kedalaman 15m.

Jadi Uji Pemboran berhasil melakukan kalibrasi survey Georadar dan Geolistrik. Satu diantaranya yang penting bahwa tubuh high resistivity yang terlihat di geolistrik adalah benar merupakan rongga.  Di lokasi Bor-2 rongga ini sebagian terisi oleh pasir ‘ayakan’ yang sangat kering.

Hasil sementara analisis carbon radiometric dating dari banyak serpihan arang yang ditemukan dikedalaman sekitar 3.5m. menunjukkan umur Carbon Dating sekitar 5500 tahun lalu yang kalau dikonversikan ke umur kalender adalah sekitar 6700 tahun BP atau sekitar 4700 SM.

Seorang arsitek  yang meriset di Gunung Padang berpendapat bahwa penataan tumpukan batuan di G.Padang Konstruksi bukan pekerjaan sembarangan tapi hasil olah arsitektur yang luar biasa. Setelah dilakukan studi banding ke Machu-Pichu (bangunan Piramid Inca di Peru), dia berkesimpulan bahwa desain arsitektur  G.Padang persis sama dengan Machu Pichu yang dibangun jauh lebih muda itu (sekitar 1400 AD).

Jadi, terlepas dari kasus Sadahurip, penemuan di Gunung Padang ini sudah berhasil membuktikan hipotesis Tim tentang keberadaan peradaban tinggi pada masa pra-sejarah yang bahkan jauh lebih tua dari peradaban piramida di Mesir.  Ini tentunya merupakan penemuan yang sangat monumental yang perlu ditindaklanjuti dengan cepat dan cermat. 

Tim sudah berhasil memverivikasi dugaan struktur bangunan sampai kedalaman 20 meter dengan uji sumur bor (coring).  Untuk langkah selanjutnya, kita masih harus membuat bor-coring  yang lebih dalam untuk membuktikan dugaan struktur bangunan sampai kedalaman 100 m (=seluruh bukit sampai level parker situs), bahkan mungkin bisa  sampai ke level sungai (sekitar 100 meter lagi ke bawah dari level parker)

Sumber : http://www.kepadamu.com/membuktikan-gunung-padang-membuktikan-sadahurip/

26 May 2012

50 Hektare untuk Ekskavasi Gunung Padang

Pemerintah Kabupaten Cianjur tak bisa menyediakan 150 hektare yang diinginkan Tim

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

VIVAnews - Tim Bencana Katastropik Purba yang difasilitasi Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur untuk menyiapkan lahan 150 hektare guna melakukan tahap lanjutan penelitian kawasan megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Namun pemerintah setempat sepertinya tak sanggup menyediakan lahan seluas itu.

“Dari hasil pertemuan dengan Bupati, kami hanya sanggup menyediakan lahan seluas 50 hektare saja yang terbagi dalam tiga zonasi Gunung Padang sesuai kebutuhannya,” kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Himam Haris, pada VIVAnews, Senin 2 April 2012.

Luas lahan yang telah dibebaskan oleh Pemda Cianjur sesuai zonasi saat ini adalah zona inti seluas 1,5 hektare. Sedangkan zona penyangga yang sudah dibebaskan baru 4,5 hektare. Saat ini Pemda sedang mengupayakan pembebasan tambahan area untuk zona penyangga seluas 16 hektare sesuai kebutuhan.

Zona ketiga berupa zona wisata yang akan melibatkan masyarakat karena menyangkut perekonomian. Zona ini masih dalam tahap penelitian. Dengan adanya zona ketiga ini nanti masyarakat diharapkan mendapatkan penghasilan dengan tetap berpartisipasi menjaga keberadaan kawasan megalitikum Gunung Padang. Saat ditanya mengenai jumlah anggaran yang disediakan oleh Pemda Cianjur untuk pembebasan lahan ini, Himan tidak bersedia menyebutkannya.

Untuk penyedian lahan sesuai dengan kebutuhan Tim Bencana Katastropik Purba Pemda Cianjur terus berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Perlindungan dan Kepurbakalaan. Lembaga ini yang menentukan luas zonasi dan kebutuhannya. Berdasarkan rekomendasi dari lembaga ini, Pemda melakukan pembebasan lahan kawasan  megalitikum Gunung Padang. “Jadi 50 hektare yang Pemda Cianjur akan siapkan sudah sangat cukup, meski jumlahnya tidak sesuai degan permintaan,” kata Himam.

Sebelumnya Tim meminta pemerintah setempat menyiapkan lahan seluas 150 hektare untuk persiapan melakukan ekskavasi. Lahan luas dibutuhkan untuk menyusun bongkahan bebatuan dan melihat konstruksi Gunung Padang. Proses ekskavasi ini akan dilakukan oleh tim arkeologi yang nantinya mencoba melihat bentuk asli dari punden berundak yang diduga dikandung di perut gunung. Berbagai penggalian akan dilakukan di berbagi titik yang luas sehingga mampu menguak misteri yang ada.

Dari hasil eksplorasi, awal tim telah membuat sebuah sketsa yang memperkirakan situs megalitik Gunung Padang mempunyai lima altar terbuka dengan puncak sebuah batu menhir menjulang yang sekarang telah rubuh. Untuk memastikan itu tim masih memerlukan pekerjaan lanjutan berupa ekskavasi.

Selain itu tim juga menemukan berbagai anomali baru berupa umpakan yang berjumlah 13 umpakan kecil. Ke-13 umpakan ini mengarah ke perkampungan penduduk. Tim merasa ini sebagai sebuah mata rantai baru dari penelitian Gunung Padang.  Ini semua yang membuat tim mengajukan permintaan lahan hingga 150 hektare pada Pemda Kabupaten Cianjur. (sj)

Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/301164-50-hektare-untuk-ekskavasi-gunung-padang

SBY Restui Ekskavasi Situs Gunung Padang

Tim Ekskavasi Gunung Padang akan bertemu dengan bupati dan tokoh masyarakat Cianjur.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
VIVAnews - Asisten Staf Khusus Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Abdullah Maky, mengatakan tim ekskavasi Situs Gunung Padang akan bertemu dengan bupati dan tokoh masyarakat Cianjur pada Jumat, pekan ini. Mereka akan membicarakan pro dan kontra ekskavasi gunung yang diduga sebagai situs megalitikum itu.

"Dialog ini sebagai upaya memberikan pemahaman pada para tokoh masyarakat dan budayawan Cianjur," kata Maky di Cianjur, Jawa Barat, Selasa 22 Mei 2012. Dia menambahkan, pertemuan ini akan berlangsung di Pendopo Kabupaten Cianjur.

Saat ini, kata dia, komunikasi dengan bupati Cianjur terus dilakukan secara intens. Menurut dia, bupati Cianjur wajib menyiapkan berbagai fasilitas pengembangan dan pemeliharaan. "Ini semua dipantau dan di bawah koordinasi langsung Presiden."

Ketua Tim Sosialisasi Ekskavasi Gunung Padang ini mengatakan, ekskavasi awal yang dilakukan sejak Rabu hingga Jumat pekan lalu juga telah dipresentasikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pukul 16.00 WIB, hari ini. "Persentasi langsung dilakukan oleh Andi Arief (Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana)," katanya. "Dari perbincangan awal proses ekskavasi akan terus dilakukan dan telah mendapatkan restu dari Presiden."

Dia mengatakan, penelitian Situs Gunung Padang ini terus dilanjutkan untuk membuka tabir siklus bencana. "Untuk Gunung Padang, situs ini diperkirakan pernah mengalami bencana pada zaman purba. Ini sisa peradaban purba yang masih ada dan perlu dilakukan riset mendalam," kata Maky.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada anggran dari pemerintah untuk melakukan ekskavasi Gunung Padang itu. Saat ini, kata Maky, kelompok arkeologi nasional serta kepurbakalaan besarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bergerak dengan anggran sendiri. "Pemerintah sudah mengtahui, namun sedang menyiapkan dana untuk ekskavasi yang besarnnya belum diketahui," katanya. (adi)

Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/315938-sby-restui-ekskavasi-situs-gunung-padang