19 July 2012

Teliti Situs, Tim Perdalam Georadar Gunung Padang

foto

Tim peneliti kembali melakukan penelitian dengan sistem georadar di Situs Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat, Selasa (17/7) dan Rabu (18/7). TEMPO/Deden Abdul Aziz



TEMPO.CO, Bandung  -Tim peneliti Gunung Padang kembali melakukan penelitian di kawasan Situs Megalitikum Gunung Padang di Kampung Panggulan Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai Selasa, 17 Juli 2012 hingga Rabu, 18 Juli 2012. Penelitian ini dilakukan untuk menambah kedalaman georadar.

Ketua Tim peneliti Danny Hilman mengatakan,  sebelumnya penelitian georadar dilakukan dengan kedalaman 20 meter. Karena  kekurangan data, georadar kembali dilakukan dengan menambah kedalaman hingga 50 meter."Georadar ini diperlukan untuk mencari lapisan di kedalaman situs," kata Danny di Cianjur, Rabu 18 Juli 2012.

Hasil georadar ini, kata Danny, akan dilaporkan kepada tim bentukan Staf Ahli Kepresidenan untuk ditindaklanjuti.  "Pengeboran perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil carbon dating, sehingga usia situs bisa ditentukan," kata  Danny.

Penentuan usia situs diperlukan karena selama ini terdapat kesimpangsiuran masalah usia situs dan peradaban yang ada di sekitarnya. Jika kepastian usia ini bisa didapat, menurut Danny, kesimpangsiuran tersebut bisa dinetralisir.

Berdasarkan hasil carbon dating sebelumnya, dari teras 2 dengan kedalaman 5 meter terdapat material yang berusia 4.700 tahun Sebelum Masehi. Sedangkan dari teras 5 dengan kedalaman 8 meter ditemukan material berusia 10.300 tahun Sebelum Masehi.

"Kami masih memiliki sampel carbon dating untuk diteliti. Jika sebelumnya carbon dating diteliti di laboratorium Badan Atom Nasional (Batan), kali ini sampel akan dikirim  ke laboratorium di Miami, Amerika Serikat, "ucap  Danny.

Danny menjelaskan, ketepatan carbon dating di laboratorium Miami dijamin karena peralatannya super canggih.  Sayang, harganya sangat mahal. Untuk satu sampel dari satu gram carbon dating harganya mencapai 600 dolar Amerika Serikat atau kira-kira Rp 5,4 juta. "Padahal diperlukan 7-10 sampel untuk diteliti," ujarnya.

Penelitian georadar dilakukan di Situs Gunung Padang di tengah-tengah arus pengunjung yang cukup membludak. Ratusan pengunjung yang memenuhi areal situs cukup merepotkan tim peneliti.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/07/18/178417851/Teliti-Situs-Tim-Perdalam-Georadar-Gunung-Padang

12 July 2012

Gunung Padang, Truly Extraordinary

Liputan6.com, Jakarta: Gunung Padang adalah sebuah struktur punden berundak raksasa yang menutup lereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur kontruksi yang advance. "Ini setara dengan kontruksi bangunan Michu-Pichu di Peru," kata anggota Tim Terpadu Riset Mandiri Boediorto Ontowirjo, dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Setelah melakukan riset, lanjut Boediarto, tim menyimpulkan tidak benar jika situs Gunung Padang hanya dianggap berada di atas bukit. Hasil survei dengan metode geolistrik, georadar, dan geomagnet menunjukkan ada geometri kontruksi bangunan di bawah situs Gunung Padang.

Menurut Boediarto, bangunan itu paling tidak menempati sekitar 15 meter bagian puncaknya. Sedangkan bangunan di bawah teras-teras Gunung Padang kelihatan mempunyai chamber-chamber besar (ditunjukkan oleh struktur veryhigh resistivity dari hasil survei geolistrik).

"Bagian kecil dari salah satu chamber yang berada di teras lima (bagian selatan Situs) ini sudah dibuktikan dengan pemboran. Ternyata memang benar sebuah rongga, tapi diisi oleh pasir (dengan butiran seragam), sepertinya untuk menyimpan sesuatu," ujar Boediarto.

Perkiraan umur Situs Gunung Padang di lapisan paling atas secara arkeologi (berdasarkan kesamaan bentuk artefak) diduga sekitar 2.800 SM. Dari penentuan umur absolut berdasarkan analisa carbon radiometricdating umur sampel serpihan karbon di bawah lapisan atas situs pada kedalaman 3-4 meter didapat umur maksimum (paling tua) 4.500 SM. Dengan kata lain perkiraan umur dari bangunan di lapisan atas adalah sekitar 2.800-4.500 SM.

Boediarto menambahkan, bangunan di bawah permukaan situs diduga kuat merupakan bangunan yang lebih tua. Soalnya hasil penentuan umur carbon radiometricdating dari sampel serpihan karbon yang terdapat pada pasir di rongga yang di-bor di Teras 5 tersebut, yaitu pada kedalaman antara 8-10 meter menunjukkan umur (maksimum) sekitar 10.500 SM.

Umur ini memang belum bisa dipastikan umur bangunannya karena bisa saja merupakan umur dari material pasir-nya itu (yang di bawah dari tempat lain). Tapi paling tidak umur ini sudah membuktikan bahwa lapisan batuan-tanah sampai kedalaman 15 meter adalah sebuah konstruksi bangunan bukan lapisan batuan alamiah (yang seharusnya berumur jutaan tahun berdasarkan data geologi di wilayah ini).

Menurut Boediarto, target ke depan tim akan melakukan analisis penentuan umur lapisan dan pemeriksaan lab dari materialnya. Termasuk untuk memastikan apakah situs Gunung Padang dan bangunan di bawahnya itu merupakan produk satu peradaban atau lebih dari satu peradaban yang kurun waktunya berbeda.

Target lain adalah melakukan survei analisis lanjutan untuk memvisualisasikan lebih jelas lagi arsitektur bangunannya, termasuk chamber-chamber yang ada di dalamnya dan juga melanjutkan membuka akses masuk.

Lalu mengeksplorasi lebih luas dan dalam lagi struktur bukit Gunung Padang karena berdasarkan survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan ada indikasi bahwa struktur bangunan tidak terbatas hanya setinggi 15 meteran di bagian atasnya saja. Tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya (sampai level parkir-pintu masuk) atau bahkan sampai 300 meteran ke Level Sungai Cimanggu.

"Hal ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif, tapi kalau ternyata hal ini benar maka merupakan sesuatu yang "truly extraordinary," kata Boediarto.

Singkatnya, Situs Gunung Padang bukanlah produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif. Tapi merupakan produk dari peradaban tinggi atau merupakan bukti nyata Mahakarya Arsitektur dari zaman prasejarah Nusantara. "Jadi Gunung Padang dapat menjadi icon dan titik tolak untuk membuka lebih banyak lagi jejak peradaban nusantara yang gemilang di masa purba," tutup Boediarto.(ULF)

Sumber : http://berita.liputan6.com/read/416682/gunung-padang-ltemgttruly-extraordinarylt-emgt

22 June 2012

Membuktikan Gunung Padang, Membuktikan Sadahurip

Resume paparan 7 Februari 2012 tentang gunung padang: Analisis  bentang alam  memperlihatkan bahwa bukit di bawah Situs Gunung Padang ini tidak selaras dengan sekitarnya, mirip dengan G. Sadahurip tapi lebih “subtle”.  Sebagaimana G. Sadahurip, interpretasi geologi yang paling masuk akal untuk bukit yang “solitaire” ini adalah merupakan suatu intrusi batuan beku atau sebuah gunung api purba.
 
Namun, hasil survey pencitraan bawah permukaan Gunung Padang dengan memakai GPR (Ground Penetration radar), Geolistrik, dan Geomagnet tidak menunjang kearah dugaan bentukan proses geologi melainkan tapi malah lebih mengindikasikan suatu struktur bangunan buatan manusia. Tim sudah memakai teknologi yang paling mutakhir.  Untuk GPR menggunakan peralatan georadar dari GSSI (USA), geolistrik memakai teknologi multi-channel SuperSting R-8 (USA), dan geomagnet memakai peralatan dari GEM-Ovenhausser yang sangat sensitive dan biasa dipakai oleh para arkeolog dunia.

Tim melakukan banyak lintasan pengukuran geolistrik dengan berbagai konfigurasi ketelitian dan “depth of penetration” yang berbeda untuk memperoleh penampang struktur “resistivity” Utara-Selatan dan Barat – Timur.   Singkatnya, data geolistrik tidak memperlihatkan struktur intrusi magma, volcanic plug ataupun gunung purba, melainkan satu geometri yang sangat unik dan kelihatannya tidak alamiah.
  
Di bawah situs  ada lapisan dengan resistivity ribuan Ohm-meters (warna merah) dengan tebal sekitar 20-30meter, miring ke Utara tapi uniknya bagian atas lapisan ini seperti TERPANCUNG RATA (di kedalaman 20 meteran dari puncak) dan membaji pas di ujung selatan Situs.  Ini kuat mengindikasikan bahwa dari kedalaman 20 meter ke atas merupakan struktur (bangunan) yang dibuat manusia.  Lapisan high resistivity (merah)  biasanya adalah batuan keras massif – seperti batuan andesit-basalt.
 
Kemudian yang lebih mencengangkan lagi di bawah lapisan merah ini juga kelihatannya sukar untuk dikatakan bentukan geologi.  Di bawah lapisan merah ada lapisan yang “low-resistivity” dengan  bentukan-bentukan membulat dari zona very low resistivity (mendekati 1 ohm-m = true conductor). Yang lebih unik lagi lapisan biru ini dialasi oleh suatu struktur high resistivity (batuan keras) yang berbentuk seperti cekungan atau “cawan raksasa”.  Posisi cawan ini kira-kira sekitar 100 meter dari puncak atau setara dengan level tempat parkir di permulaan tangga untuk naik ke situs.
 
Kenampakan struktur cawan ini sangat konsisten terlihat di lintasan Utara-Selatan dan Barat-Timur dan diberbagai konfigurasi survey.   Sebagai informasi, keberadaan struktur seperti cawan atau kolam ini juga terdapat di penampang resistivity hasil survey geolistrik di Gunung Sadahurip.

Dugaan dari hasil survey Geolistrik bahwa lapisan sekitar 20 meter ke bawah dari atas situs adalah sebuah konstruksi bangunan  ditunjang oleh Survey GPR.  Survey GPR dilakukan berbagai lintasan atas situs dengan memakai antenna MLF 40 MHz dari SIR-20 GSSI yang dapat menembus kedalaman sampai sekitar 25-30 meteran. Dari GPR terlihat ada bidang “very high reflector” di kedalaman sekitar 3-5 meter dari permukaan di semua teras.  Bidang ini sangat horizontal dan juga membentuk undak-undak seperti situs di atasnya.
 
Dibawah bidang ini struktur lapisan tidak kalah unik. Ada lapisan melintang yang memotong lapisan-lapisan horizontal  yang  tidak mungkin merupakan struktur geologi untuk lingkungan di bukit ‘vulkanik’.   Singkatnya, penampang georadar sangat mendukung adanya  struktur bangunan sampai kedalaman 20 m.

Tim juga kemudian melakukan survey geolistrik 3-D di atas situs yang dimaksudkan untuk mendapatkan sub-surface structure yang lebih detil sampai kedalaman 25 meteran.  Survey  3-D berhasil meng-iluminasi struktur di bawah situs dengan baik.
 
Salah satu hasil yang membuat kami terperangah adalah kenampakan tiga tubuh “very-high resistivity” (lebih dari 50.000 ohm.m) di bawah situs.  Dengan nilai resistivitas setinggi ini kemungkinannya ada dua: tubuh yang sangat solid/pejal atau merupakan ruang (“CHAMBER”).  Dalam konteks-nya dengan struktur disekitarnya yang paling mungkin adalah merupakan ruang kosong  atau chamber.
 
Dimensi chamber tersebut kelihatannya sangat besar.  Ada satu yang kira-kira 10x10x10 meter.  Kekagetan kami tidak berhenti di sini.  Hasil survey geomagnet memperlihatkan ada anomaly magnetic yang tinggi di beberapa lokasi.  Salah satunya yang besar terletak persis disamping struktur yang diduga chamber besar.  Anomali magnetic tinggi bisa berasosiasi dengan timbunan barang-barang terbuat dari bahan metal/logam.

Kemudian, sebagai tahapan pembuktian selanjutnya, Tim sudah melakukan pengeboran di dua titik.   Lokasi bor yang dipilih sebenarnya bukan titik “Jack-pot” yang seharusnya di-bor berdasarkan survey geolistrik, georadar, dan geomagnet, misalnya persis di atas Chamber atau anomaly high magnetic-nya.  Hal ini dikarenakan lokasi-lokasi strategisnya dipenuhi tumpukan kolom andesit situs yang TIDAK BOLEH DIPINDAHKAN.

Tim mendapat ijin bor dari pihak berwenang tapi belum diperbolehkan untuk memindahkan bebatuan situs.  Walaupun demikian, hasil pemboran sudah cukup untuk membuktikan dugaan struktur bangunan dan juga sukses dalam mengkalibrasi hasil survey georadar dan geolistrik.

Pada Lubang Bor 1: dari permukaan sampai kedalaman kira-kira 3 meter terdapat perlapisan susunan kolom andesit 10-40 cm (yang dibaringkan) diselingi lapisan tanah. Setiap kolom andesit ini dilumuri oleh semacam semen (sama seperti yang ditemukan waktu trenching dinas kepurbakalaan tahun 2000 sampai kedalaman 1.8 meter).  Sewaktu menembus 3m , Tim mendapat surprise karena tiba-tiba drilling loss circulation dan bor terjepit. 

Yang dijumpai adalah lapisan pasir-kerakal SUNGAI (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal 1 meteran (Catatan: jadi rupanya bidang reflektor yang terlihat pada GPR di kedalaman 3-5 meter di semua Teras adalah batas dengan permukaan hamparan pasir ini).  Dari sudut teknik sipil, diduga  hamparan pasir ini dapat berfungsi sebagai peredam guncangan gempa. 

Dibawah kedalaman 4m , bor menembus struktur selang seling antara lapisan kolom andesit yang ditata dan lapisan tanah-lanau.  Kolom andesit yang ditata itu sebagian ditata horizontal dan sebagian lagi miring (catatan: ini sesuai dengan survey GPR yang memperlihatkan bahwa perlapisan ada yang horizontal dan ada yang miring).

Baru dikedalaman sekitar 19 meter bor menembus tubuh andesit yang kelihatannya massif tapi penuh dengan retakan.  Tubuh massif ini dibor sampai kedalaman sekitar 25 meter (note: sesuai dengan penampang geolistrik bahwa kelihatannya bor sudah menembus lapisan merah yang terpancung itu).  Banyak ditemukan serpihan karbon, diantaranya ditemukan di kedalaman sekitar 18m yang lebih menguatkan bahwa lapisan kolom andesit dan tanah (atau semen) yang ditembus bukan endapan gunung api tapi struktur bangunan.

Bor ke-dua yang dilakukan persis di sebelah selatan Teras 5 menembus tanah (yang seperti tanah urugan sampai kedalaman sekitar 7 meter. Kemudian ketemu batuan  andesit keras. Di kedalaman 8 m terjadi hal mengejutkan – Total Loss, 40% air di drum langsung tersedot habis. Hal ini berlangsung sampai kedalaman 10 m. Inilah target utama-nya – tubuh very high resistivity yang terlihat jelas di Geolistrik 3-D.  Mata  bor menembus rongga yang diisi pasir (kering) yang luarbiasa keseragamannya seperti hasil ayakan manusia.  Di bawahnya ketemu lagi dua rongga yang juga terisi pasir ‘ayakan’ itu diselingi oleh ‘tembok’ andesit yang sepertinya lapuk.  Pemboran berhenti di kedalaman 15m.

Jadi Uji Pemboran berhasil melakukan kalibrasi survey Georadar dan Geolistrik. Satu diantaranya yang penting bahwa tubuh high resistivity yang terlihat di geolistrik adalah benar merupakan rongga.  Di lokasi Bor-2 rongga ini sebagian terisi oleh pasir ‘ayakan’ yang sangat kering.

Hasil sementara analisis carbon radiometric dating dari banyak serpihan arang yang ditemukan dikedalaman sekitar 3.5m. menunjukkan umur Carbon Dating sekitar 5500 tahun lalu yang kalau dikonversikan ke umur kalender adalah sekitar 6700 tahun BP atau sekitar 4700 SM.

Seorang arsitek  yang meriset di Gunung Padang berpendapat bahwa penataan tumpukan batuan di G.Padang Konstruksi bukan pekerjaan sembarangan tapi hasil olah arsitektur yang luar biasa. Setelah dilakukan studi banding ke Machu-Pichu (bangunan Piramid Inca di Peru), dia berkesimpulan bahwa desain arsitektur  G.Padang persis sama dengan Machu Pichu yang dibangun jauh lebih muda itu (sekitar 1400 AD).

Jadi, terlepas dari kasus Sadahurip, penemuan di Gunung Padang ini sudah berhasil membuktikan hipotesis Tim tentang keberadaan peradaban tinggi pada masa pra-sejarah yang bahkan jauh lebih tua dari peradaban piramida di Mesir.  Ini tentunya merupakan penemuan yang sangat monumental yang perlu ditindaklanjuti dengan cepat dan cermat. 

Tim sudah berhasil memverivikasi dugaan struktur bangunan sampai kedalaman 20 meter dengan uji sumur bor (coring).  Untuk langkah selanjutnya, kita masih harus membuat bor-coring  yang lebih dalam untuk membuktikan dugaan struktur bangunan sampai kedalaman 100 m (=seluruh bukit sampai level parker situs), bahkan mungkin bisa  sampai ke level sungai (sekitar 100 meter lagi ke bawah dari level parker)

Sumber : http://www.kepadamu.com/membuktikan-gunung-padang-membuktikan-sadahurip/